Our new blog: ………….. http://www.lykasal.com/

Jika Anda pernah mengunjungi sebuah restoran Cina saya yakin Anda pernah melihat boneka kucing berwarna putih atau emas dengan kaki diangkat ke atas, kemudian seakan siap menyapa ketika Anda masuk. Ya benar, boneka kucing yang anda lihat tersebut oleh kalangan tertentu diklaim sebagai pembawa keberuntungan dan namanya adalah Neko Maneki. Bahkan boneka ini sempat pula ditampilkan oleh organisasi TICA. menurut TICA, boneka kucing Neko juga diklaim sebagai pembawa keberuntungan bagi para peserta pameran junior sekaligus ditampilkan sebagai maskot mereka.

Menurut Wikipedia,  Maneki neko (招き猫 / kucing mengundang) adalah pajangan berbentuk kucing dari Jepang yang dibuat dari porselen atau keramik. Sebelah kaki depan (tangan) pajangan ini diangkat seperti sedang memanggil orang. Pajangan ini dipercaya membawa keberuntungan kepada pemiliknya dan biasa dipajang di toko, restoran dan tempat-tempat usaha. Maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kanan dipercaya dapat mendatangkan uang, sementara maneki neko yang mengangkat kaki depan sebelah kiri dipercaya mendatangkan pembeli. Maneki neko umumnya tidak dibuat dengan kedua belah kaki depan diangkat karena tidak ingin dikatakan sudah menyerah angkat tangan. Model pajangan ini biasanya adalah kucing belang tiga,  kucing Japanese Bobtail   dengan ekor pendek seperti ekor kelinci. Maneki neko juga dibuat dalam warna-warna lain seperti kuning emas atau hitam. Kucing yang menjadi model maneki neko konon sedang mencuci muka dengan menggunakan sebelah kaki depan.

Maneki neko merupakan contoh klasik yang dapat dibuat dalam berbagai warna, aneka model, dan ragam hiasan. Pajangan ini juga dibuat sebagai bentuk berbagai macam keperluan sehari-hari, seperti: gantungan kunci, celengan, hingga  pengharum ruangan. Bahan-bahan lain yang tidak umum untuk membuat maneko neko adalah plastik atau kain perca. Dalam bahasa Inggris, maneki neko disebut fortune cat (kucing keberuntungan) atau beckoning cat (kucing memanggil).

Ada beberapa cerita tentang asal-usul maneki neko, namun tidak dapat dipercaya kebenarannya. Menurut legenda Gōtoku-ji, penguasa Domain Hikone  yang bernama Ii Naotaka sedang dalam perjalanan pulang berburu dengan burung elang, dan lewat di depan kuil Gōtoku-ji. Di depan pintu gerbang, ia melihat kucing peliharaan biksu  yang seperti memanggilnya untuk masuk ke kuil. Ajakan kucing tersebut diikuti Ii Naotaka yang masuk ke dalam kuil untuk beristirahat. Ketika baru saja ia meluruskan kaki, turun hujan disertai petir. Ii Naotaka sangat gembira karena tidak basah kehujanan. Sebagai rasa terima kasih kepada kucing di kuil, Ii Naotaka menyumbangkan uang untuk pembangunan kembali Gōtoku-ji menjadi sebuah kuil yang megah. Ketika kucing tersebut mati, sebuah makam didirikan oleh biksu untuknya. Beberapa lama kemudian, Aula Manekineko didirikan di lingkungan kuil berikut sebuah patung yang diberi nama Manegineko . Bentuknya berupa kucing yang sedang mengangkat sebelah kaki depan. Gōtoku-ji merupakan kuil klan Ii. Di kuil ini terdapat makam Ii Naosuke yang tewas akibat pembunuhan di luar pintu gerbang Sakuradamon, Istana Edo pada tahun 1860.

Cerita versi lainnya yaitu legenda Jishō-in. Seorang samurai yang bernama Ota Dokan tersesat di jalan setelah hampir kalah dalam pertempuran Egotagahara  (sekitar 1476-1478). Tiba-tiba di hadapannya, muncul seekor kucing yang melambaikan kaki depan, dan mengajaknya untuk beristirahat di Jishō-in. Setelah beristirahat, kekuatan Ōta Dōkan pulih dan menang dalam pertempuran. Sebagai rasa terima kasih, patung Jizōson berbentuk kucing dipersembahkan kepada kucing tersebut. Di kemudian hari, patung berbentuk kucing disebut-sebut sebagai cikal bakal maneki neko. Menurut kisah lain dari kuil yang sama, seorang pedagang kaya yang ditinggal mati anak tercintanya mempersembahkan patung Jizōson berbentuk kucing.

Maneki neko merupakan tradisi yang menganggap benda pembawa keberuntungan. Orang Jepang banyak yang membelinya pada tahun baru. Maneki Neko sering dijual bersama kumade  di kios pasar kaget yang berjualan di luar kuil Shinto. Selain itu, toko pajangan yang menjual maneko neko dalam berbagai ukuran sering dijumpai di kota-kota dengan tradisi dagang yang kuat. Pinggiran kota Takasaki  dikenal sebagai pusat kerajinan maneki neko . Maneki neko asal Takasaki umumnya dibuat dengan teknik hariko (rangka kayu ditempel washi ).

Sumber: TICA dan WIkipedia


Taken from: http://www.vice.com/read/meow-meow-meow-329-v17n2

Cat cafés are huge in Japan right now. As the name suggests, these are coffee shops where cat lovers go to sip overpriced lattes and hang out with an adorable smoosh pile of kitties. In the past five years, exactly 79 such cafés have popped up all over Japan. What’s weird is that the café cats aren’t expensive pedigreed felines like Persians or those other ones with the funny bendy ears, they’re just the everyday mixed breeds you might find in the back lot of your local supermarket, cats who, in the immortal words of Brian Setzer, “slink down the alley, looking for a fight/Howling to the moonlight on a hot summer night.” Likewise, in the past few years, there’s been an explosion of photo books and DVDs featuring average-joe cats. If people are so fascinated by what are essentially domesticated alley cats, why don’t they just swoop one up from the legions of strays all over Japan and take them home? I’ll tell you why: because landlords in Japan are dicks.

Thirty-eight-year-old Norimasa Hanada, the owner of Neko no mise (Shop of Cats), Tokyo’s first-ever cat café, explains the problem: “Most Japanese rental apartments prohibit pets. The only ones that allow them are condominium apartments for families. This means that young, single-dwelling workers in their 20s and 30s can’t even think about getting any pets, despite the fact that they’re stressed out and are seeking comfort and companionship of some kind.”

It makes sense, then, that most cat-café fans are relatively young. More than 30 customers shuffled into and out of Neko no mise during the four hours I recently spent there, and apart from one lady in her 50s, all the other patrons were in their 20s or 30s (most of them female, with only three guys spotted the entire time). Another contributing factor to the cat-café trend is that Japanese people are chronically shy, to the extent that many can’t even hold a decent conversation about the weather with a stranger. The wordless, tactile communication of kitty cats is a great source of comfort for these high-strung, antisocial urbanites.

At Neko no mise, a few sofas, chairs, and tables were scattered throughout the café, which emanated a relaxing, feminine atmosphere complete with soft music. One wall was lined with a bookshelf full of hundreds of manga books. Apparently there are 14 resident cats at Neko no mise, and because it’s winter in Tokyo right now, most were huddled under the kotatsu (a traditional Japanese low table with an electric heater on the underside). Since the cats are obviously the kings of the café (and they know it), they seemed more arrogant than I’m used to. Some of them were skittish and jumped around every time a new person came in or walked out. I got the impression that unless you’re willing to stay for the long haul, befriending a café cat is trickier than desired, especially for an establishment that makes money off the illusion that patrons will be guaranteed some pussy lovin’.

There are a few different types of cat-café customers. Newcomers will be so swept up in the distinct atmosphere that they will just sit there stunned. It looked as if most of them had never had a pet cat or even touched one before and it seemed like they were struggling to come to terms with the unpredictable behavior of real cats while their fantasies of docile, purring balls of love were being shot to hell. In an hour’s stay, most could only manage to touch a passing cat just once. Many customers seemed like the shy, meek, silent type who were in need of a hug or two. Since these sorts don’t have the courage to go up to a cat and play with it themselves, they would read a book and sip coffee while they patiently hoped for a cat to come closer. It broke my heart.

Those who came in groups were generally cheerful and talked a lot, using the café as a place to catch up with friends. The cat factor was a bonus for them, and they grabbed the cat toys lying around and played with the cats quite successfully. The couples that I saw were either in new relationships or were still in the friendship stage, and were using the cats to bridge the awkward distance between them.

While I sipped my coffee in a room full of cats and cat groupies, I could slowly feel the soothing effects of the kitty café wash over me. Before I knew it, I was smiling for no reason and was so at ease that my eyes started to droop in a sort of happy stupor. Others must have been feeling the same numbing effects because occasionally the room full of people would fall silent as they stared at the cats’ every move.

Most customers stayed for at least one hour, but apparently some fanatics can last more than six hours. Norimasa told me that “while the average stay is an hour and a half, some regulars take a sick day from work and stay all day. They say that they’re about to buckle under the stress of their workload and need some time out. Some regulars come four or five times a week, while those who have become so mentally drained from work that they have taken an extended leave from their jobs come every day, seeking comfort and healing.”

Cat cafés generally charge a time-based fee. Neko no mise charges $1.50 every ten minutes ($9 an hour), and $21.50 for a special three-hour plan. Might sound like they’re overcharging, but maintaining a clean, dreamy cat environment ain’t cheap. The only way for cat cafés to survive is for them to maintain a high turnover rate and keep away the cheapskates who will otherwise undoubtedly stay for hours on end, nursing a single cup of coffee. Sadly, this also means that the regulars who stay for six hours end up paying more than $42 just to stroke some fur.

There’s a Japanese legend that says that cats become popular every time there’s a recession in this country, and it’s true that there’s been a huge boom in cat and cat-related-merchandise sales these past few years. Something about those pointy ears and tiny paws has a calming effect on the human mind. Or perhaps it’s the traditional Japanese culture of forcing people to behave like herds of sheep and act appropriately by carefully judging the vibe of every situation (what the Japanese literally call “reading the air”) that makes the independent, freedom-loving cat the perfect target of obsession. I know I’m making this all sound pretty sad, but like most cute things, it’s best not to think about it too much. Just stare into the hypnotizing eyes of the pretty kitties and let your troubles fall away.

Hope someday I’ll visit it too….


There are quite a few cafes in Japan where you pay a small entrance fee and get to play with its resident cats. One of these cafes is Neko no Jikan in Osaka, I found this article from Vivanews.

These cat cafes are perfect for cat lovers. They have a large variety of resident cats and the cats are just so gorgeous, cute and loving. Maybe this is a perfect solution for tourists and locals who miss the company of their sweet loving felines….

I still cannot find these kind of cat cafe in Indonesia….

See the video on vivanews: http://video.vivanews.com/read/18002-uniknya-kafe-kucing-di-osaka_1

Bulu Kucingku Rontok… !!

Kadang kita bingung melihat bulu kucing kesayangan kita rontok dan menempel diseluruh sofa dan baju saat kita sedang bermanja-manja dengannya.  Bulu yang lepas dan menempel tersebut  sepertinya sudah merupakan hal yang biasa bagi pemilik kucing. Namun lama-kelamaan jika diperhatikan bulu yang rontok itu semakin banyak jumlahnya.  Yang mengkhawatirkan kita adalah apakah kucing ini sedang sakit ? Timbul dalam benak kita bahwa keindahan bulu kucingku akan jauh berkurang dengan kerontokan tersebut.

Kerontokan bulu merupakan problem yang paling sering dijumpai menyerang kucing, apalagi untuk kucing dengan tipe long hair. Untuk mengatasi masalah tersebut gampang-gampang susah karena jika ditilik penyebabnya cukup banyak. Beberapa penyebab yang sering terjadi berdasarkan pengalaman dan informasi dokter adalah seperti:

  1. Rontok normal pada umumnya. Pada umumnya kucing akan menggugurkan bulunya paling tidak setahun sekali yang kemudian akan diikuti oleh  pergantian bulu yang baru. Namun demikian tidak menutup kemungkinan ada juga beberapa kucing yang dapat mengalami kerontokan dua atau beberapa kali setahun dengan jumlah yang tentunya tidak terlalu banyak. Kerontokan yang tidak terlalu banyak juga terjadi pada kucing betina secara periodik sesuai siklus reproduksi kucing.
  2. Kekurangan nutrisi. Kitten pada umumnya memerlukan makanan dengan kandungan protein minimal 30 %, sedangkan kucing dewasa antara 25-30 %.  Selain itu kucing  juga memerlukan berbagai vitamin dan nutrisi lain agar tetap sehat untuk menjaga kondisi kulit dan bulu agar tetap optimal.  Makanan kucing dipasaran yang relatif murah biasanya mempunyai kanduingan protein yang rendah dan tidak mengandung berbagai vitamin dan nutrisi tambahan yang diperlukan kucing, hal ini menjadi salah satu penyebab kekurangan nutrisi. Untuk itu sebaiknya gunakan tipe makanan yg memiliki nutrisi lengkap dan seimbang. Kalau pun cukup mahal maka anda dapat melakukan kombinasi dari beberapa tipe. Disamping itu jangan lupa memberikan tambahan vitamin untuk mendorong perkembangan bulu, diantaranya vitamin A dan E.
  3. Kelebihan vitamin. Seperti halnya kekurangan vitamin, kelebihan vitamin juga dapat menyebabkan kerontokan bulu, kulit kering/ berkerak dan mengelupas. Untuk itu proporsi pemberiannya juga harus memperhatikan dosis dan pemakaiannya.
  4. Suhu udara lingkungan yang terlalu panas. Fungsi kulit dan bulu pada kucing  adalah untuk melindungi tubuhnya dari berbagai pengaruh lingkungan dan penyakit.  Kulit dan bulu juga berfungsi untuk mengatur suhu tubuh dalam batas tertentu.  Pada daerah beriklim dingin bulu akan terangsang untuk tumbuh lebih tebal dan panjang karena berfungsi mencegah hilangnya panas dari tubuh.  Sebaliknya kucing cenderung merontokkan bulunya sendiri bila lingkungan tempat tinggalnya terlalu panas seperti halnya di daerah tropis. Untuk itu tempatkanlah kucing ditempat yang sejuk, kering dan bersih tentunya dengan sirkulasi udara yang lancar. Ada kalanya para breeder menempatkan AC/ pendingin udara di dalam ruangan dimana kucing berada.
  5. Shampoo mandi tidak sesuai. Shampoo yang tidak sesuai untuk kucing baik dari segi kandungan dan derajat keasaman (ph) dapat menyebabkan kerontokan. Beberapa shampoo yang banyak busanya mempunyai kandungan deterjen yang cukup tinggi yang dapat mengiritasi kulit dan menyebabkan kerontokan. Disamping itu frekuensi mandi yang terlalu sering dapat mempengaruhi kelembaban normal kulit & bulu kucing. Kelembaban yang berlebihan dapat menjadi tempat yang sangat baik bagi berkembangnya jamur. Sebaliknya kelembaban yang rendah akan membuat kulit dan bulu kering dan rapuh. Pembilasan dan pengeringan yang kurang sempurna juga dapat menyebabkan iritasi dan kerontokan.
  6. Kutu/Pinjal (flea). Kutu/pinjal merupakan hama yang paling sering dijumpai menyerang kucing. Gigitan pinjal dapat menyebabkan kulit menjadi memerah, membengkak dan terjadi peradangan ringan disekitar gigitan. Bila jumlahnya banyak, reaksi alergi dan radang pada kulit akan semakin meningkat, akibatnya akan mempertinggi resiko kerontokan bulu yang tumbuh di atas kulit tersebut. Cara mengatasinya dengan memberikan obat kutu seperti Revolutions yang diteteskan pada tengkuk kucing. Jenis obat ini ada yang untuk kitten dan ada pula untuk kucing dewasa. Namun syaratnya bila anda memiliki lebih dari satu ekor kucing, sebaiknya pengobatannya dilakukan secara menyeluruh. Karena kuti ini akan dengan mudah berpindah tempat melalui sentuhan antara kucing sehat dan kucing yang sudah terkena kutu.
  7. Tungau (mites). Kebanyakan tungau hidup dengan menghisap cairan tubuh yang terdapat pada kulit, sehingga akhirnya kulit mati dan kering akibat kekurangan cairan dan nutrisi. Tungau seperti demodex dan scabies sangat sering menyerang kucing. Mahluk ini hidup dan tinggal di bawah kulit dalam lubang dan terowongan yang digalinya sendiri. Reaksi alergi dan radang yang muncul juga dapat memperparah kerusakan kulit dan bulu. Cara mengatasinya biasanya oleh dokter diberikan suntikan yang kemudian diulang setelah 2 minggu. Untuk kitten biasanya diberikan saja salep seperti scabicyt.
  8. Jamur (mold). Wilayah Indonesia yang berada di daerah tropis dengan kelembaban tinggi merupakan daerah yang cocok bagi tumbuhnya berbagai jenis jamur. Bulu tebal dan panjang pada kucing juga menciptakan tempat yang cocok bagi tumbuhnya jamur. Salah satu penyakit kulit yang sering terjadi yaitu ringwormjuga disebabkan oleh jamur. Selain menyerang kucing & anjing, penyakit ini juga dapat menyerang manusia dan menyebabkan gatal-gatal serta kemerahan pada kulit. Cara mengatasinya biasanya dokter juga memberikan suntikan tertentu yang diulang selama 2 minggu. Untuk jamur kucing yang menyerang manusia tertular dari kucing menurut pengalaman biasanya dapat dihilangkan dengan salep 88.
  9. Gangguan hormon. Disamping itu penyebab lain kerontokan bulu adalah gangguan pada produksi beberapa hormon. Salah satu yang paling sering adalah kebotakan yang bersifat simetris pada kedua sisi tubuh akibat gangguan pada hormon adrenal.
  10. Alergi. Penyebab lainnya adalah yang disebabkan oleh berbagai hal seperti gigitan kutu, makanan, vaksin dan obat-obatan, rumput atau tanaman lain, plastik, dll. Pemecahan masalah alergi relatif mudah yaitu dengan pemberian antihistamin dan menghindarkan kontak dengan bahan penyebab alergi, yang sulit adalah mencari dan mengidentifikasi bahan penyebab alerginya.
  11. Gangguan kekebalan. Kerontokan bulu juga terjadi pada beberapa penyakit gangguan kekebalan tubuh seperti autoimun.

Nah bila kucing anda mengalami gejala-gejala tersebut jangan panik. Identifikasi terlebih dahulu penyebab kerontokannya. Jika perlu konsultasikan ke dokter hewan anda. Yang paling penting adalah tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan rutin melakukan pembersihan secara menyeluruh.

Dari berbagai sumber…


Four-year-old stray becomes world’s richest feline after death of 94-year-old mistress

A black cat. Tommaso, a four-year-old stray, has become the world’s richest cat. Photograph: Alamy

Tommaso, a four-year-old, one-time stray from Rome, is thought to have become the world’s richest cat.

Since the death of his 94-year-old mistress last month, he has become a property magnate — or perhaps mognate — with flats and houses worth an estimated €10m scattered from Milan in the north to Calabria in the south.

In a handwritten will, signed on 26 November, 2009, Tommaso’s mistress — the childless widow of a successful builder — gave her lawyers the task of identifying “the animal welfare body or association to which to leave the inheritance and the task of looking after the cat Tommaso”.

One of the lawyers, Anna Orecchioni, told the Rome daily Il Messaggero they considered several organisations without getting adequate guarantees of the cat’s future comfort and welfare. In the meantime, the old lady met a fellow cat-lover – named only as Stefania – in a park. “Sometimes I’d go to her house so my cat could play with Tommaso,” Stefania said.

As the old lady became increasingly frail, Stefania, a nurse, began to take care of her.

“She needed someone to help her move around, shower and eat. I looked after until the end,” she said.

Under Italian law, animals cannot inherit directly. But they can be beneficiaries if a suitable trustee is found. The elderly widow decided to entrust the cat – and his fortune – to Stefania.

Tommaso’s trustee, who is now looking after him an undisclosed address outside Rome, said: “I had no idea the signora had such wealth.”

But the fortune pales by comparison with that of Gunther IV, an Alsatian who inherited from his father Gunther III, the pet of a German countess. According to the Pet Gazette, he is worth around $372m.

The richest cat was previously thought to be Blackie, who was left £9m by his reclusive British owner in 1988.